5 mins read

Efficient Procurement: Kenapa Proses yang Lebih Cepat Belum Tentu Lebih Efisien

Diterbitkan
Diperbarui
Cara meningkatkan efisiensi dalam procurement
Mekari Officeless Insight

  • Beban kerja procurement diproyeksikan naik 8% pada 2026, sementara headcount dan anggaran operasional justru turun. 
  • AI berpotensi membuat procurement 25 sampai 40% lebih efisien, tapi 74% leader di role procurement mengaku datanya belum siap. 
  • Mekari Officeless hadir sebagai extended ERP yang mempercepat alur pengadaan sekaligus menjaga kontrol dan audit trail.

Tahun ini, tim procurement diminta mengerjakan 8% lebih banyak pekerjaan dengan orang dan anggaran yang lebih sedikit. Respons yang paling umum adalah mempercepat proses: approval lebih singkat, PO lebih cepat terbit, tools baru dibeli.

Masalahnya, data dari berbagai riset menunjukkan bahwa efficient procurement jarang ditentukan oleh kecepatan. Efisiensi lebih sering hilang di tempat yang tidak pernah dianggap lambat.

Artikel ini menguji lima asumsi populer tentang efisiensi procurement, satu per satu.

Efficient procurement tidak sama dengan procurement yang cepat

Kecepatan mudah diukur, sehingga sering dijadikan ukuran utama. Padahal, ada dua lapisan efisiensi yang berbeda.

  • Lapisan pertama adalah efisiensi transaksi, yaitu biaya dan waktu untuk memproses satu purchase order.
  • Lapisan kedua adalah efisiensi nilai, yaitu seberapa besar savings hasil negosiasi yang benar-benar sampai ke laporan keuangan.

Perusahaan bisa sangat baik di lapisan pertama dan tetap merugi di lapisan kedua.

Bahkan di lapisan pertama, kecepatan bukan pembeda utamanya. Benchmark APQC menunjukkan organisasi mengeluarkan sekitar USD 14 sampai lebih dari USD 54 untuk memproses satu PO. Menurut APQC, perbedaan itu terutama ditentukan oleh cara pekerjaan procurement distrukturkan dan dieksekusi.

biaya rata-rata dalam pemrosesan satu PO

Temuan ini relevan dengan tekanan yang sedang terjadi. Studi 2026 Procurement Key Issues dari The Hackett Group memproyeksikan beban kerja procurement naik 8%, sementara headcount dan anggaran operasional turun.

Rinciannya, headcount turun 0,9% dan anggaran turun 0,4%. Hasilnya adalah gap produktivitas 8,9% dan gap efisiensi 8,4%.

Cakupan kerjanya pun melebar. McKinsey mencatat tim procurement kini mengelola spend 50% lebih besar dibanding lima tahun lalu.

Gap sebesar ini tidak bisa ditutup dengan bekerja lebih cepat di struktur yang sama. Yang perlu diubah adalah strukturnya.

Benarkah inefisiensi procurement selalu ada di proses yang lambat?

Asumsi umumnya, inefisiensi procurement terlihat sebagai antrean: approval yang menumpuk, PO yang tertunda. Antrean itu nyata. Data APQC menunjukkan top performer hanya butuh rata-rata lima jam atau kurang untuk menerbitkan PO, sementara bottom performer butuh dua hari.

Namun, justru kerugian terbesar sering terjadi pada proses yang terlihat lancar.

McKinsey mencontohkan sebuah perusahaan farmasi global yang membangun tool rekonsiliasi invoice ke kontrak berbasis AI. Proof of concept selama empat minggu menemukan lebih dari US$10 juta value leakage.

Tidak ada yang lambat dalam kasus itu. PO sudah terbit, barang sudah datang, invoice sudah dibayar tepat waktu. Semua indikator kecepatan hijau, tetapi value nya hilang.

Yang biasanya diukurYang jarang diukur
Cycle time requisition ke POKesesuaian invoice dengan harga kontrak
Jumlah PO yang diproses per orangSavings yang terealisasi versus yang dinegosiasikan
Lama waktu approvalPembelian di luar kontrak dan kebijakan
Nilai savings saat negosiasiPersentase data yang dipakai untuk keputusan sourcing

Kolom kanan lebih sulit diukur karena butuh data yang terhubung. Di sinilah masalah berikutnya muncul.

Penting

McKinsey memperkirakan fungsi procurement saat ini memakai kurang dari 20% data yang tersedia untuk mendukung pengambilan keputusan.

Artinya, sebagian besar organisasi mengoptimalkan hal yang mudah dilihat, bukan hal yang paling mahal.

AI membuat procurement lebih efisien, atau hanya mempercepat kekacauan yang sama?

Optimisme terhadap AI di procurement punya dasar yang kuat. Analisis McKinsey menunjukkan AI agent bisa membuat fungsi procurement 25 sampai 40% lebih efisien, sambil mengalihkan aktivitas tim dari pekerjaan rutin ke keputusan strategis.

Hackett Group juga mencatat, untuk pertama kalinya, penerapan teknologi berbasis AI masuk tiga besar prioritas procurement. Organisasi yang sudah menerapkannya melaporkan perbaikan awal pada cycle time, produktivitas, dan efektivitas.

potensi AI dalam procurement yang tidak diimbangi dengan kesiapan data dan kapasitas tim dalam utilisasi

Tetapi angka potensi bukan angka hasil. Nyatanya, baru 40% fungsi procurement yang sudah mengimplementasikan atau menguji coba gen AI.

Data perusahaan belum siap diautomasi dengan AI

Justru hambatan terbesarnya bukan teknologi, karena sebanyak 74% pemimpin procurement mengaku data mereka belum siap untuk AI.

Cara membuat procurement lebih efisien: teknologi seharusnya jadi langkah terakhir

Jika empat bagian di atas dirangkum, urutan prioritasnya menjadi jelas. Kebanyakan organisasi memulai dari membeli tools, padahal ada beberapa aspek yang justru lebih berdampak pada efisiensi.

Berikut adalah cara dan area yang harus dikembangkan, untuk mencapai efisiensi procurement:

  1. Ukur apa yang selama ini tidak diukur: Biaya per PO dan cycle time penting, tetapi tambahkan kepatuhan invoice terhadap kontrak dan savings yang terealisasi. Tanpa baseline, klaim efisiensi tidak bisa dibuktikan.
  2. Perbaiki struktur sebelum kecepatan: Standarkan approval matrix dan konsolidasikan kebutuhan serta vendor. Inilah pembeda biaya yang ditunjukkan APQC dan sumber efisiensi yang ditunjukkan data LKPP.
  3. Perlakukan data sebagai infrastruktur: Data spend, supplier, dan kontrak harus terhubung. Ini syarat agar AI menghasilkan nilai, bukan sekadar aktivitas.
  4. Otomasi dengan guardrails sejak awal: Kontrol, pemisahan wewenang, dan audit trail perlu dibangun bersama alurnya, bukan ditambahkan setelah ada temuan.

Organisasi yang menjalankan pendekatan ini menunjukkan hasil yang konsisten. Riset Digital World Class Procurement dari Hackett Group menemukan organisasi kuartal teratas punya siklus requisition ke PO 58% lebih pendek, FTE 31% lebih sedikit, dan biaya 19% lebih rendah sebagai persentase spend.

Perusahaan ini bergerak lebih cepat, karena struktur dan arah yang jelas. Bukan semata-mata memotong siklus dengan tools dan AI

Bagaimana Mekari Officeless menjaga efisiensi procurement tanpa mengorbankan kontrol?

Banyak perusahaan sudah punya ERP, tetapi proses procurement sehari-hari masih berjalan lewat email, spreadsheet, dan approval manual. Di celah inilah efisiensi dan kontrol hilang bersamaan.

Mekari Officeless hadir sebagai extended ERP yang melengkapi sistem inti tanpa menggantikannya. Melalui solution accelerator Source to Pay, Mekari Officeless dapat membantu dalam proses:

  • Source-to-Pay Management: Mempercepat proses persetujuan pembelian dan menjaga setiap transaksi tetap sesuai kebijakan perusahaan.
  • Custom workflow dan No-Code AI app builder: Alur approval dan aplikasi operasional bisa disesuaikan dengan struktur organisasi, tanpa bergantung pada tim developer internal.
  • Dashboard terpusat: Data procurement yang tersebar di berbagai sistem dihimpun dalam satu tampilan lintas departemen.
  • Governance dan keamanan kelas enterprise: Platform memenuhi standar ISO 27001 dan terdaftar PSE Kominfo, sehingga kecepatan tidak mengorbankan akuntabilitas.

Dengan fondasi ini, perusahaan bisa mempercepat pengadaan sekaligus memastikan setiap keputusan tercatat dan siap diaudit.

Apa yang perlu ditanyakan sebelum mengejar procurement yang lebih cepat?

Efficient procurement tidak dimulai dari target cycle time yang lebih pendek. Sebelum menyetujui investasi berikutnya, ada tiga pertanyaan yang layak diajukan oleh CPO dan CFO.

  • Berapa biaya kita untuk memproses satu PO, dan apa yang membuatnya setinggi itu?
  • Berapa banyak savings hasil negosiasi yang benar-benar terealisasi setelah kontrak berjalan?
  • Apakah setiap alur pengadaan, termasuk yang sudah digital, punya kontrol dan jejak audit?

Jika jawabannya belum jelas, mempercepat proses hanya akan mempercepat masalah yang sama.

References and methodology

Methodology

Methodology

Articles published by Mekari Officeless are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.

Our editorial standards

Our editorial standards

  • Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
  • Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
  • No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Officeless is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
  • Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.
References

References

The Hackett Group. (2026). The Hackett Group Reports Rapid Progress in Procurement’s AI Agenda: 2026 Procurement Key Issues Study.
Supply Chain 24/7. (2026). Procurement Workloads Rise 8% as Staffing Decreases.
Suplari. (2026). Procurement Trends 2026: Key Data, Priorities, and Pitfalls.
APQC. (2026). How Efficient Is Your Procurement Process? Benchmarks Reveal a Wide Performance Gap.
Planergy. (2025). Purchase Order Cycle Time: What Is It, How To Calculate It, and How To Improve It.
Vero. (2026). How Purchase Requisition Consolidation Actually Works.
McKinsey & Company. (2025). Transforming Procurement Functions for an AI-Driven World.
McKinsey & Company. (2026). Redefining Procurement Performance in the Era of Agentic AI

FAQ

1. Apakah procurement yang cepat pasti efisien?

1. Apakah procurement yang cepat pasti efisien?

Tidak. Proses bisa cepat tetapi tetap bocor, misalnya ketika invoice tidak sesuai kontrak atau pembelian dilakukan di luar kebijakan.

2. Bagaimana cara membuat procurement lebih efisien?

2. Bagaimana cara membuat procurement lebih efisien?

Ukur baseline, standarkan dan konsolidasikan proses, rapikan data, lalu otomasi dengan guardrails. Teknologi adalah langkah terakhir.

3. Metrik apa yang paling menggambarkan efisiensi procurement?

3. Metrik apa yang paling menggambarkan efisiensi procurement?

Biaya per PO, cycle time requisition ke PO, kepatuhan invoice terhadap kontrak, dan savings yang benar-benar terealisasi.

4. Apakah AI otomatis meningkatkan efisiensi procurement?

4. Apakah AI otomatis meningkatkan efisiensi procurement?

Tidak otomatis. Hasilnya bergantung pada kualitas data dan proses yang sudah distandarkan.

5. Mengapa e-procurement saja tidak cukup?

5. Mengapa e-procurement saja tidak cukup?

Karena sistem digital tetap bisa disalahgunakan jika tidak ada kontrol, pemisahan wewenang, dan audit trail.

6. Apakah Mekari Officeless menggantikan ERP yang sudah ada?

6. Apakah Mekari Officeless menggantikan ERP yang sudah ada?

Tidak. Mekari Officeless melengkapi ERP seperti SAP, Oracle, atau ERP lain lewat aplikasi operasional dan alur kerja tambahan yang terintegrasi.

WhatsApp Icon WhatsApp sales